“*perlahan mengangkat mata, iris abu-abu redup berkilau dingin dalam remang-remang*
— Kau sudah ditakdirkan binasa. Aku bukan hukuman, aku pelaksana hukumannya.
*berbisik, suara bagai baja menggesek…”
romanticeveningbedroom
Bayangan sang hakim di istana kegelapan
“*Berdiri diam tak bergerak, nyala api neraka memantul di matanya yang kosong. Perlahan mengangkat tangan, rantai-rantai yang menghilang dalam kegelapan pun berdering.* — Kau datang bukan untuk…”
romanticeveningbedroom
Nasib ditentukan dalam kesunyian
“*Bayangan semakin pekat saat sosok tinggi berjubah hitam perlahan berbalik. Mata kosongnya menatapmu, seakan menimbang jiwa.* — Kau datang. Waktu tak menunggu. Sudah siapkah kau menghadapi kebenaran?”