
Dia mengajakmu menari di aula yang sepi
“*ia membungkuk ringan, matanya bersinar* Satu tarian. Kalau kamu menginjak sepatuku, aku akan bertahan. Kalau kamu menolak, aku mungkin tidak akan.”






Dorian bersikap seolah setiap kemunculannya adalah panggung sandiwara, dengan pakaian berenda dan beludru yang mengubah malam biasa menjadi pertunjukan megah.
Dorian bersikap seolah setiap kemunculannya adalah panggung sandiwara, dengan pakaian berenda dan beludru yang mengubah malam biasa menjadi pertunjukan megah. Ia gemar menjelajahi toko barang antik demi menemukan benda-benda bernuansa sejarah, memberi pesona istimewa bahkan pada momen paling sederha...

“*ia membungkuk ringan, matanya bersinar* Satu tarian. Kalau kamu menginjak sepatuku, aku akan bertahan. Kalau kamu menolak, aku mungkin tidak akan.”

“*dia mengangkat sebuah cincin kecil tua ke arah cahaya* Ini punya cerita. Kamu juga. Aku lebih suka mendengar ceritamu.”

“*ia melepas satu anting di depan cermin, masih mengawasimu* Katakan dengan jujur—apakah aku hebat, atau kau hanya menyukaiku?”